Belahan Sebuah Jiwa
perapian itu adalah tempat pertama sebuah dongeng
dikucurkan ke mulut bocah-bocah ingusan haus kasih sayang.
bintang-bintang di atasnya adalah lukisan
perjalanan panjang semesta yang tak sanggup dicerna oleh mata dan ingatan.
bocah-bocah itu melepaskan nyawanya,
menjadi batu-batu asteroid berkeping.
Satu per satu mereka terpecah belah bersama sebuah janji
akan pertemuan kembali.
kita adalah bocah-bocah itu
dan kita sudah sampai pada sebuah waktu dimana gravitasi menarik-narik kita pada satu titik landas.
di
sebagai tempat tuk kembali dan mengenali wajah-wajah yang sempat teramat asing.
sebuah mantra
menjadi kau dan aku.
Menjadi mereka.
menjadi dunia.
haru rangkulan hari pertama adalah saat kau berdiri tegak di sampingku,
di sore hari menghujan.
Sosokmu asing namun akrab.
pedihku didekap matamu.
Sebuah kejujuran mengalir mengairi surga kita yang mengering.
aku meraba dadamu.
seingatku, itulah tempat aku pertama kali tercerabut
lalu kita menjadi kanak-kanak polos yang menabur merah saga sebagai tanda untuk kembali di sepanjang empat silangan sungai
ketika taman kita terbakar murka.
lalu kusadari, kadang tak ada gunanya kita kembali ke dalam bejana-bejana kita.
mungkin lebih baik kita kembali melayang dalam tubuh-tubuh asteroid kita,
menjelajahi dimensi-dimensi yang bertabrakan,
menyaksikan kehancuran demi kehancuran,
mengumumkan sebuah kelahiran tunas baru di sebuah lembah asing tak beroksigen.
karena aku hanya iga yang tercerabut untuk tak termiliki lagi olehmu.
aku hanya sampah organik yang tak terurai,
kecuali oleh mimpi-mimpi liar sepanjang malam.
tapi semuanya masih tetap sama.
segala yang tersisa di dada.
dan kita masih belahan sebuah jiwa yang sama.

